Senin, 25 Januari 2016 - 12:10:56 WIB
Tips Kiropraksi yang Aman
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Poliklinik LKTM - Dibaca: 1965 kali

Akhir-akhir orang ramai membicarakan tentang kiropraksi. Hal ini menyusul adanya berita tentang meninggalnya seorang pasien yang diduga karena tindakan kiropraksi. Karena institusi LKTM Palembang merupakan salah tempat pengembangan model dan pelayanan kesehatan tradisional dan komplementer. Maka sudah seharusnya kami memberikan informasi yang benar tentang kiropraksi itu.

Kita tidak sedang membicakan tentang kasus tersebut. Tapi pada tulisan ini nanti diharapkan pembaca bisa mengerti apa itu kiropraksi, dasar hukum dalam pelaksanaan kiropraksi, siapa saja sebenarnya yang boleh melakukan tindakan tersebut dan apa yang perlu diperhatikan sebelum mendapatkan tindakan tersebut.

Kiropraksi merupakan sebuah kaedah perawatan atau pembetulan tulang belakang dengan menggunakan manipulasi tangan. Dengan berdasarkan ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa sistem saraf mengontrol fungsi setiap sel tubuh, organ dan sistem tubuh, maka kiropraksi memusatkan perhatian kepada sistem saraf secara menyeluruh.

Awalnya kiropraksi hanya dilakukan untuk memperbaiki postur dan mengurangi sakit punggung, ternyata kiropraksi juga bisa mengurangi keluhan penyakit di seluruh tubuh. Sehingga sejak beberapa tahun terahir kiropraksi dipilih sebagai salah satu metode penyembuhan penyakit.

 

Dasar-dasar Hukum Kiropraksi

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1076/Menkes/SK/VII/2003, chiropractor adalah seseorang yang melakukan pengobatan kiropraksi (Chiropractie) dengan cara teknik khusus untuk gangguan otot dan persendian. Kiropraksi sendiri digolongkan dalam pengobatan tradisional komplementer.

Ada perbedaan antara pengobatan tradisional pada umumnya termasuk akupunktur yang bisa dilakukan dengan menempuh pendidikan relatif singkat, seorang chiropractor sebelum praktik harus menempuh pendidikan layaknya seorang dokter, seperti di negara Kanada, untuk memperoleh gelar Doctorate in Chiropractic (D.C) atau Doctor of Chiropractic minimal harus menempuh pendidikan 7 tahun. Hal ini juga dijalankan di negara-negara Eropa seperti Amerika Serikat, Australia.

Seorang chiropractor harus benar-benar memahami tentang anatomi tubuh manusia terutama tulang belakang artinya sangat memungkinkan seorang dokter yang mengambil keahlian kiropraksi. Di Indonesia sendiri, ada pendidikan kiropraksi dengan syarat minimal seorang dokter, baik dokter umum atau spesialis.

 

Pengetahuan Seorang Chiropractor

Menurut  WHO guidelines on basic training and safety in chiropractic, seorang chiropractor harus mampu:

  1. Menerapkan pengetahuan saintis fundamental mengenai tubuh manusia;
  2. Memahami sifat biomekanik dan postur normal atau abnormal, serta patopisiologi dari sistem neuromuskulo-skeletal dan hubungannya dengan struktur anatomi lainnya
  3. Menjalin sebuah hubungan yang memuaskan dengan pasien
  4. Mengumpulkan dan mencatat informasi klinis dan mengkomunikasikan informasi tersebut
  5. Secara akurat menafsirkan temuan laboratorium klinis dan pencitraan diagnostik dari sistem neuromuskulo-skeletal
  6. Membuat sebuah diagnosa klinis yang akurat
  7. Menerapkan penilaian yang sehat dalam memutuskan perawatan yang sesuai
  8. Memberikan perawatan yang berkompeten
  9. Memberikan perawatan kesehatan berlanjut yang kompeten
  10. Memahami penerapan dari metode-metode dan teknik-teknik kontemporer dalam bidang kesehatan
  11. Menerima tanggungjawab dari seorang chiropraktor
  12. Memahami keahlian dan cakupan chiropraktik dan profesi perawatan kesehatan lainnya guna memfasilitasi kerjasama dan penghormatan intra-disipliner dan inter-disipliner
  13. Memilih subyek-subyek riset, merancang proyek riset sederhana, secara kritis menilai penelitian-penelitian klinis dan berpartisipasi dalam program-program riset multi-disiplin
  14. Berkomitmen terhadap kebutuhan pembelajaran seumur hidup dan pengembangan profesional terus menerus

Masih menurut WHO, bila  digunakan secara trampil dan benar, perawatan chiropraktik adalah aman dan efektif untuk pencegahan dan manajemen sejumlah masalah kesehatan. Namun, terdapat risiko dan kontraindikasi yang diketahui dari protokol perawatan manual dan lainnya yang digunakan dalam praktek kiropraktik.

Praktek kiropraktik melibatkan suatu kisaran umum dan khusus dari metode-metode diagnostik, termasuk pencitraan skeletal, uji laboratorium, evaluasi ortopedik dan neurologis, serta penilaian observasional dan penilaian taktil. Manajemen pasien melibatkan penyesuaian tulang belakang dan terapi manual lainnya, latihan rehabilitatif, langkah-langkah pendukung dan penguat, pendidikan dan bimbingan pasien. Praktek kiropraktik menekankan manajemen konsertatif dari sistem neuromuskulo-skeletal, tanpa penggunaan obat-obatan dan pembedahan.

Ada banyak cara praktek-praktek kiropraktik yang tidak benar seperti:

•  Kebiasaan diagnostik yang tak memadai

•  Evaluasi pencitraan diagnostik yang tak memadai

•  Keterlambatan memberi rujukan

•  Keterlambatan dalam melakukan evaluasi ulang

•  Kurangnya kerjasama antarprofesional

•  Kegagalan memperhitungkan batas toleransi pasien

•  Pemilihan atau implementasi teknik yang buruk

•  Penggunaan manipuasi yang berlebihan atau tidak perlu

 

Penyebab-penyebab komplikasi dan reaksi-reaksi yang merugikan

•  Kurangnya pengetahuan

•  Kurangnya ketrampilan

•  Kurangnya sikap rasional dan teknik

 

Cara Kerja Kiropraksi

Ilmu yang dikenalkan pertama kali oleh DD Palmer dari Amerika Serikat ini adalah dengan mengoreksi atau membetulkan persendian secara sederhana, kiropraksi adalah salah satu pengobatan alternatif dengan memperbaiki kesalahan pada susunan tulang belakang agar tidak mengganggu fungsi saraf, sehingga tubuh bisa menyembuhkan dirinya sendiri tanpa obat atau operasi. 

 

Tulang belakang mulai dari leher sampai dengan tulang ekor berisi syaraf-syaraf yang mempersyarafi seluruh bagian tubuh. Jika ada gangguan seperti subluksasi bisa akan berefek gangguan di bagian tubuh yang dipersyarafinya.

 

Koreksi Kiropraksi
Chiropractor terlebih dahulu melakukan pemeriksaan yang seksama untuk mengetahui fungsi sendi/pergerakan, fungsi otot, dan saraf. Jika dari pemeriksaan menunjukkan adanya subluksasi (sendi yang bergerak tidak normal) maka perlu diadakan koreksi kiropraksi.

Koreksi  adalah membantu tulang dan sendi ke posisi normal, menormalkan gerakan dan menghilangkan iritasi yang kadang menyebabkan sakit dan malfungsi dari organ bila didiamkan terlalu lama.

Ada banyak cara untuk mengadakan  koreksi  tulang belakang. Koreksi membantu menormalkan fungsi tulang belakang dan menghindari kerusakan jaringan di kemudian hari. Misalnya pada kasus subluksasi perlu tindakan kiropraksi untuk mengembailkan posisis tulang belakang pada anatomi yang sebenarnya. Dan jika fungsi saraf kembali normal, ini akan membantu tubuh untuk menyembuhkan dengan sendirinya.

Ada beberapa penyebab  masalah (subluksasi):
– Posisi tidur, duduk atau berdiri yang tidak benar.
– Proses kelahiran.
– Kecelakaan.
– Mengangkat barang dengan posisi yang tidak benar.
– Olahraga yang tidak sesuai.

Subluksasi tidak selalu menyebabkan rasa sakit pada mulanya, dan biasanya orang tidak menyadarinya dan tidak perduli dengannya. Tetapi subluksasi itu akan menimbulkan kerusakan tubuh yang lebih besar dan pada saat itulah baru orang tersebut merasa sakit.
Dari penelitian diketahui bahwa tubuh punya cara untuk menyembuhkan secara sendirinya. Dengan mengkoreksi sistem tubuh yang tidak benar (dalam hal ini sendi dan saraf) maka akan memungkinkan tubuh bekerja secara optimal.

 

Izin Praktek Kiropraksi

Karena pentingnya dalam pengawasan tindakan kiropraksi maka mereka yang akan berpraktek harus mendapat izin. Izin untuk klinik kiropraksi dikeluarkan oleh Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPTSP). BPTSP merupakan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang melayani perizinan dan non perizinan. Dalam lingkup wilayah Propinsi, yang mengeluarkan izin klinik kiropraksi adalah BPTSP Pemprov. Sedangkan Dinas Kesehatan hanya memberikan rekomendasi. 

 

Tips Sebelum Mendapatkan Tindakan Kiropraksi

Ada beberapa tips yang harus dipahami sebelum berobat dengan kiropraksi ada terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

1.     Konsulkan terlebih dahulu dengan dokter ahli tentang penyakit yang diderita apakah memang memerlukan tindakan kiropraksi atau tidak.

2.     Carilah tempat praktek kiropraksi yang benar-benar memperkerjakan tenaga yang profesional.

3.     Jangan memilih tempat karena biaya murah tapi pilihlah tempat yang baik dan mempunyai izin resmi.

4.     Sebaiknya pahami penyakit yang diderita baik dengan konsultasi dengan dokter ahli dan mencari rujukan-rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Demikianlah artikel ini supaya bermanfaat bagi siapa saja yang memutuskan untuk mendapatkan pengobatan dengan tindakan kiropraksi.